Google Translate

Contact Me

Minggu, 13 Maret 2011

Stategi Perang Romawi



Formasi dasar dari taktik bertempur Romawi, adalah mengorganisir pasukan secara disiplin, agar bisa bertempur secara efektif. Kebanyakan komandan militer pada waktu ini biasanya langsung menyerang frontal kearah musuh berdasarkan jumlah dan kekuatan pasukan yang masif, dan keberuntungan. Militer Romawi sadar bahwa mereka tidak selamanya bisa mengandalkan hal ini, kemudian mulai beralih ke strategi cara berperangnya yang terkenal. Setiap situasi, ditangani dengan cara yang berbeda dengan mempertimbangkan medan, kekuatan pasukan lawan, jenis dan spesifikasi (ketersediaan) pasukan romawi sendiri pada saat itu.

Ini adalah formasi default. Kavaleri (Cavalry) mengapit dua baris kelompok pasukan infantri (setiap baris biasanya terdiri dari lima kelompok infantri). Dibelakang pasukan Infantri ada tujuh kelompok pasukan ringan, dan dibelakangnya, tujuh kelompok pasukan cadangan.

Ketika sedang berjalan (marching), formasi yang digunakan adalah: pasukan Kavaleri berada didepan, diikuti oleh pasukan infantri dalam kelompok yang memanjang. Dibelakangnya adalah kendaraan, bagasi dan pelayan. Dan yang paling belakang adalah unit terpilih (elite) dari kavaleri maupun infantri untuk melindungi serangan dari belakang. Unit-unit ringan kemudian disebar mengelilingi formasi utama ini.



Bermacam-macam Formasi Serang-Bertahan pasukan Romawi disesuaikan dengan situasi dan kondisi (Battle Formation), beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

Bentuk pertama :
Taktik ini digunakan untuk medan tempur yang rata, dengan asumsi pasukan romawi saat itu memiliki kelompok sayap (wings) yang kuat. Jika musuh menghindari kelompok sayap ini dan memutarinya, maka ada pasukan cadangan (reserves) yang akan menghadangnya. Begitu kelompok sayap musuh dapat dikalahkan, maka pasukan romawi akan menekan pusat (center) dari pasukan musuh.

Bentuk Kedua
Dengan asumsi, sayap kiri lebih lemah, mungkin karena harus mensuport perisai yang berat, serangan dimulai dari sayap kanan, memutari formasi musuh dan menyerang dari belakang. Sayap kiri tetap menjaga formasi, pasukan cadangan menjaga sayap kiri atau serangan musuh ke arah tengah.


Bentuk Ketiga
Formasi ini digunakan dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Digunakan ketika sayap kiri (biasanya yang terlemah), lebih kuat daripada sayap kanan. Ketika menyerang, sayap kiri, diisi dengan kaveleri terbaik pasukan romawi, menyerang sayap kanan lawan sementara sayap kanannya sendiri tetap menjaga jarak dalam batas yang aman.


Bentuk Keempat
Keuntungan dari Formasi ini adalah serangan yang tak terduga. Seluruh pasukan dibawa mendekati pasukan musuh, dimana kedua sayap langsung menyerang kedua sayap musuh. Hal ini biasanya mengagetkan pasukan lawan. Sistem serangan ini, membagi pasukan menjadi tiga bagian, dimana bila musuh selamat dari serangan pertama, bagian tengah pasukan romawi tetap terjaga, dimana kedua sayap bisa berperang secara terpisah.


Bentuk Keenam
Ketika jumlah pasukan romawi kalah banyak dibandingkan pasukan lawan, ini adalah formasi yang ‘diharapkan’ bisa berhasil. Sayap kiri dilindungi oleh apa saja yang tersedia. Sayap kanan dilindungi oleh pasukan ringan dan kaveleri. Dengan dua sayap dalam keadaan terjaga baik, pasukan lawan paling kurang harus berpikir banyak sebelum menyerang.




Gambar diatas adalah formasi alternatif pasukan romawi yang dipimpin oleh Scipio ketika menghadapiHannibal dari Kartago, dalam Pertempuran Zama, 19 Oktober 202 SM.




0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - and an additional touch of admin | riyan_malik@rocketmail.com